Bapak
bank rakyat miskin, siapakah dia? Yaa dia adalah Muhammad
Yunus. Kenapa beliau mendapat gelar
seperti itu? Karena dia merupakan pendiri Bank Grameen, dimana Bank Grameen itu
sendiri memiliki makna yaitu bank untuk kaum miskin.
Baiklah teman pembaca,
sebelum saya menjelaskan mengenai sejarah berdirinya Bank Grameen,terlebih
dahulu saya ingin memberitahukan sedikit
mengenai sosok dari pendiri Bank Grameen tersebut yaitu bapak Muhammad Yunus.
Jadi teman pembaca , Muhammad Yunus berasal dari salah satu keluarga menengah
ke atas di desanya. Ayahnya merupakan penambang emas sukses dan mendorong
anaknya untuk bersekolah setinggi-tingginya. Ibunya menjadi sosok yang
menginspirasinya, karena selalu memberikan pinjaman kepada masyarakat sekitar
yang membutuhkan. Kehidupan masa kecil Yunus banyak dihabiskan di desa
kelahirannya, sebelum akhirnya ia pindah ke kota Chittagong karena bisnis
perhiasan ayahnya yang maju. Muhammad Yunus adalah sosok yang cerdas dan
cekatan. Pendidikannya cukup menjanjikan. Ia menjadi anak yang pintar di
sekolahnya. Kecerdasannya selama sekolah membuatnya mendapatkan beasiswa untuk
melanjutkan studi ekonomi.
Pada usia 21 tahun, ia
telah berhasil menyelesaikan studi di Universitas Chittagong dan ditawari
posisi sebagai dosen di almamaternya tersebut. Ia menerima tawaran tersebut dan
mengajar di sana dari tahun 1961 sampai 1965. Pada tahun 1965, Muhammad Yunus
mendapatkan beasiswa Ph.D. bidang ekonomi di Vanderbilt University Graduate
Program in Economic Development (GEPD). Namun, sebelum masuk ke universitas
tersebut, ia diwajibkan mengikuti kuliah musim panas di University of Colorado.
Dalam program kuliah
tersebut, ia tidak merasakan kesulitan sedikitpun. Program master yang
dipelajarinya menjadi enteng dan dangkal jika dibandingkan dengan tugas-tugas
canggih yang pernah ia kerjakan di Bangladesh. Setelah menamatkan pendidikan
Ph.D. di Amerika Serikat, Yunus menjadi seorang pengajar di Chittagong
University. Muhammad Yunus menjadi sosok ekonom yang menonjol di Bangladesh.
Pada saat itu negeri
itu tengah dilanda kelaparan. Di situlah dia mengajarkan teori ekonomi yang
muluk-muluk di ruang kelas dengan antusiasme seorang doktor yang baru lulus
dari Amerika Serikat. Tetapi, begitu selesai mengajar, dia keluar kelas dan langsung
saja melihat kerangka hidup berkeliaran di sekeliling dia, yaitu orang-orang
sekarat, tinggal menunggu ajal. Dia
merasakan bahwa apapun yang dia ajarkan hanya merupakan khayalan yang
tak punya arti bagi orang-orang itu. Karena itu,dia mencoba mengetahui bagaimana mereka yang
tinggal di kampung sebelah kampus universitas tempat dia mengajar itu
menjalankan kehidupan mereka. Dia ingin
tahu apakah ada sesuatu yang dapat dia lakukan sebagai sesama manusia untuk
menunda atau menghentikan kematian walaupun hanya menyangkut satu orang saja.
Pada suatu hari, dia
bertemu dengan seorang wanita yang membuat dingklik dari bambu setelah
panjang lebar bicara dengannya,dia menemukan bahwa sehari ibu itu hanya
menghasilkan dua sen dolar amerika. Dia
tak bisa percaya bahwa ada seseorang yang dapat bekerja keras, dan
membuat dingklik bambu dengan begitu indah, dan hanya mendapatkan penghasilan
begitu kecil. Ibu itu menjelaskan bahwa karena tidak punya uang untuk membeli
bambu, dia harus meminjamnya dari seorang pedagang dan orang itu memaksakan
sebuah aturan bahwa ibu tadi harus menjual dingklik buatannya hanya kepadanya,
dengan harga yang ditentukan oleh pedagang tadi. Karena itulah ibu tadi hanya
mendapat penghasilan dua sen per hari. Dengan demikian,ibu itu menjadi pekerja
yang terikat oleh pedagang tersebut. Sebenarnya berapa harga bambu itu? Dia
bilang, “Oh, sekitar 20 sen; atau 25 sen untuk yang bagus sekali.” Dia
berpikir, “Ada orang yang menderita hanya karena tidak punya uang 25 sen, dan
tak ada sesuatu yang bisa dia lakukan?” Nurani dia bergemuruh dengan suatu
pergulatan apakah dia harus memberinya 25 sen, tapi kemudian dia punya gagasan
lain,dia akan membuat daftar orang-orang yang memerlukan uang seperti itu.
Dia mengajak mahasiswanya keliling
kampung selama beberapa hari. Akhirnya mereka memiliki daftar 42 orang seperti
ibu tadi. Ketika dia menjumlahkan total uang yang mereka perlukan dia sangat
terkejut, jumlah total uang itu hanya 27 dolar!! Pada saat itu dia merasa malu
terhadap dirinya sendiri karena menjadi bagian dari suatu masyarakat yang tidak
bisa menyediakan uang sejumlah 27 dolar bagi 42 orang yang memiliki keahlian
dan semangatuntukkerjakeras.Untuk menghapus rasa malu itu,dia mengambil uang 27
dolar dari kantongnya dan memberikan kepada mahasiswanya tadi. dia berkata
ambillah uang ini dan berikan kepada 42 orang yang kita temui itu. Katakan
kepada mereka bahwa uang ini adalah pinjaman dan mereka dapat mengembalikannya
kapan saja mereka bisa. Muhammad Yunus melakukan hal itu agar mereka dapat menjual
produk mereka kepada siapapun yang akan membayar dengan bayaran yang baik.”
Setelah menerima uang
itu mereka jadi bersemangat. Melihat itu,dia berpikir, “Apa yang harus dia
lakukan sekarang?” Dia berpikir mengenai cabang bank yang ada di kampusnya dan
dia menemui manajernya serta menyarankan agar dia meminjamkan uang kepada
orang-orang yang telah mereka temui tadi. Manajernya pun kaget seperti jatuh dari langit!
Katanya,”Anda gila apa? Itu tak mungkin. Bagaimana mungkin kami meminjamkan
yang itu kepada orang-orang miskin? Mereka tidak layak untuk menerima kredit.” bapak
Yunus membujuknya dan berkata
“Sekurang-kurangnya cobalah, siapa tahu…toh uang yang bakal terlibat hanya
sedikit.”
Katanya, “tidak akan.
Aturan kami tidak memungkinkan hal itu. Mereka tidak dapat memberi jaminan, dan
jumlah sekecil itu juga tidak layak diberikan sebagai pinjaman.”
Manajer tadi menyarankan kepada bapak Yunus untuk menemui
pejabat yang lebih tinggii, di hierarki perbankan Bangladesh. Bapak Yunus pun
mengikuti sarannya dan menemui orang yang bertugas pada perkreditan. Semua
orang mengatakan hal yang sama kepadanya. Setelah beberapa hari berkeliling
mencari orang yang dapat diajak bicara, akhirnya dia menawarkan diri sebagai
penjamin. “Saya akan menjadi penjamin semua pinjaman itu. Akan saya
tandatangani apa pun yang harus saya tandatangani. Setelah mendapat uangnya, saya
akan menyerahkannya kepada orang-orang yang saya kehendaki.”kata Pak Yunus.
Jadi, begitulah
mulainya. Mereka terus-menerus mengingatkannya bahwa orang-orang miskin yang
menerima pinjaman itu tidak akan mengembalikannya. Dia berkata, “Akan saya
coba.” Dan herannya mereka mengembalikan setiap sen kepadanya. Dia jadi amat bersemangat dan kembali lagi kepada
manajer bank tadi, “Lihat, mereka membayar pinjaman mereka; jadi tak bakal jadi
masalah.”kataPakYunus.
Tetapi manajer tersebut
bilang, “Ah, jangan mudah tertipu. Mereka sedang membodohi Anda. Coba saja,
mereka pasti segera meminjam uang yang lebih besar, dan tak akan pernah
mengembalikankepadaanda.”
Nah mendengar perkataan
manajer tersebut, pak Yunus meminjamkan uang yang lebih besar, dan pada saatnya
mereka mengembalikan pinjaman mereka. Dia
ceritakan hal ini kepada manajer tadi, tapi katanya, “Yah, barangkali
Anda bisa melakukan hal ini di satu desa, tapi kalau anda melakukannya untuk
2desa, ini tidak mungkin jalan.”
Dia segera melakukannya
untuk 2 desa-dan ternyata jalan. Begitulah, akhirnya seakan-akant terjadi
pergulatan antara pak Yunus dengan manajer bank tadi, juga sejawatnya di posisi
struktural yang lebih tinggi. Mereka mengatakan bahwa itu tak akan jalan untuk
jumlah orang yang lebih besar, misalnya 5 desa. Karena itu, dia melakukannya
untuk 5 desa, dan ternyata setiap orang mengembalikannya. Orang-orang bank tadi
tidak mau menyerah. Mereka bilang, “10desa.50desa.100desa.”
Jadilah semacam
perlombaan di antara mereka dan pak Yunus. Setiap kali dia datang kepada
mereka, membawa hasil yang tentu tidak mereka tolak, karena uang itu adalah
uang mereka, tetapi mereka tetap tidak menerima idenya, karena mereka dididik
dengan pemahaman bahwa orang miskin tidak layak mendapat uang pinjaman. Menurut
mereka, orang miskin tidak bisa diandalkan. Untungnya, dia tidak dididik
seperti itu sehingga dia masih bisa percaya apa saja yang bisa dia lihat dan
temukan, ketika hal-hal itu menyatakan dirinya sendiri. Tetapi, pikiran dan
mata orang-orang bank tadi dibutakan oleh pengetahuan yang mereka miliki.
Akhirnya muncul
pikiran, kenapa dia harus berusaha membuat mereka yakin? Dia sendiri amat
percaya bahwa orang miskin dapat mengambil pinjaman dan membayarnya kembali.
Kenapa tidak mendirikan bank sendiri? Gagasan ini membuat dia bersemangat, maka
dia menulis proposal dan menghadap pemerintah untuk mendapatkan izin mendirikan
bank. Dia memerlukan waktu 2 tahun untuk
meyakinkan mereka.
Akhirnya pada tanggal 2
Oktober 1983 Pak yunus mendirikan sebuah bank yaitu Grameen Bank,bank resmi dan
independen. Seiring berjalannya waktu , Bank Grameen terus berkembang dan
selalu memberikan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan terutama dari kaum
miskin.
Sekian cerita saya
mengenai bapak Muhammad Yunus dalam mendirikan Bank Grameen, semoga teman
pembaca dapat mengambil manfaat dari cerita ini, AMIN.
Sekian dan terima
kasiiiiih :)
