Senin, 16 Januari 2017

LAPORAN PENELITIAN MATA KULIAH KEMISKINAN DAN PERBERDAYAAN

LAPORAN PENELITIAN MATA KULIAH KEMISKINAN DAN PERBERDAYAAN
Gampong Meunasah Mon, Kec. Masjid Raya
Kab. Aceh Besar
Di Susun oleh:
Nama Anggota Kelompok :
Fidzar Aiga Aulianda
Aziz Gusti Munandar
Intan Silvia
Marliana
Novi Yanti
Nia Murniati
T. Silva Nanda
Apriansyah
aMiftahul Jannah
Kori Silvia
Rafi Aulia
ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
BANDA ACEH

Latar Belakang
Kemiskinan merupakan hal yang kompleks karena menyangkut berbagai macam aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Agar kemiskinan di Indonesia dapat menurun diperlukan dukungan dan kerja sama dari pihak masyarakat dan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini.
Program pemerintah untuk menangani masalah kemiskinan telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin dari 28,01 juta (10,86%) pada tahun 2016 menjadi 22,5 juta (11,3%). Namun, berbagai hal yang terjadi di Indonesia berkurang sebesar 0,50 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2015 yang sebesar 28,51 juta orang (11,13 persen).  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Aceh Besar mencapai 383,477 jiwa dengan komposisi penduduk usia produktif mencapai 53,08 persen. Namun demikian, yang menjadi tantangan terbesar adalah menjawab angka kemiskinan yang masih tinggi yaitu 16,88 persen, padahal Aceh Besar memiliki potensi sumbar daya alam (SDA) yang sangat kaya.

Aceh merilis profil kemiskinan di daerah ini Maret 2016. Dari data tersebut menunjukkan persentase angka kemiskinan di Aceh hingga Maret 2016 tertinggi kedua (16,73 persen) di Pulau Sumatera, setelah Bengkulu (17,32 persen). Peringkat kemiskinan kedua provinsi ini masih sama seperti periode Januari-September 2015.
Pada satu daerah di Aceh Besar di kecamatan Masjid raya di Desa Meunasah Mon yang memiliki tingkat kemiskinan 50%. Pada umum nya masyarakat di desa Meunasah
Mon bekerja sebagai nelayan dan petani kebun yang menurut mereka pekerjaan ini sangat tergantung pada cuaca di lokasi tersebut.

Mengapa dan apa pentingnya riset di desa tersebut?
Meunasah Mon memiliki jumlah kepala keluarga  sebanyak 358. Desa ini ada 4 dusun yang masyarakat nya 75% bersuku aceh dan skitar 15%  yang tidak termasuk suku aceh. Bangunan rumah di desa ini mayoritasnya ialah rumah bantuan Tsunami 2004 lalu. Namun, tidak sedikit rumah di desa ini  yang hanya berukuran 15 meter. Mata pencaharian yang di dominasi oleh petani, nelayan, dan berjualan  ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga maupun pribadi mereka sendiri. Tidak sedikit dari anak-anak dari desa ini harus terputus sekolah akibat tidak ada nya biaya keluarga untuk meneruskan sekolah mereka. Diakibatkan beberapa faktor, terdapat kurang lebih 70% penduduk yang dikategorikan miskin atau kurang mampu.

Hasil Temuan Lapangan
Berdasarkan pantauan kami selama disana, masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, petani dan berjualan  tersebut mengaku bahwa penghasilan mereka sangat lah pas – pas an bahkan cenderung kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari apalagi untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Ditambah dengan harga barang pokok  yang semakin hari semakin melambung membuat mereka sangatlah kesulitan. Cuaca yang terkadang  tidak mendukung sangat menghambat mereka untuk mencari nafkah sehingga mereka terpaksa harus mencari pekerjaan tambahan demi menghidupi keluarga sehari hari. Namun, tidak semua masyarakat memiliki pekerjaan sampingan, seperti salah satu narasumber kami yang bernama Zainal.
Beliau sehari hari hanya bekerja sebagai buruh bangunan, meski tidak mencukupi, namun diakibatkan tidak adanya keahlian lain yang dimiliki membuat nya tidak memiliki bekerja sampingan demi menutupi kebutuhan sehari hari serta membeli susu untuk anak yang masih kecil.  Di desa tersebut masih banyak kita temukan lansia yang seharusnya sudah dapat beristirahat namun mereka masih bekerja demi menyambung hidup. Memang hal ini sangat disayangkan karena apabila mereka terlalu capek akan sangat  berbahaya bagi kehidupan mereka. Program Raskin yang dimiliki oleh gampong tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan mereka diakibatkan tidak merata nya pembagian bantuan tersebut. Terkadang raskin yang dibagikan tersebut tidak sesuai dengan data yang ada bahkan masyarakat yang seharusnya mendapatkan bantuan tersebut malah tidak mendapatkannya.
Begitu juga dengan zakat, tidak semua masyarakat mendapatkan nikmat zakat tersebut meskipun mereka sangat pantas untuk mendapatkannya. Kurangnya pengetahuan masyarakat atas informasi bantuan atau program pemerintah yang ditawarkan kepada gampong tersebut menjadi salah satu penyebab mereka tidak mendapatkan akses. Untuk mencari modal tambahan, masyarakat Meunasah Mon kebanyakan tidak berani untuk meminjam kepada lembaga keuangan diakibatkan takut nya tidak mampu untuk membayar kembali pinjaman tersebut meskipun syarat yang ditawarkan tidak terlalu sulit, namun dengan tidak adanya jaminan yang mereka pegang membuat mereka enggan untuk “berhutang”. Di samping itu, adanya predikat “miskin” yang melekat ada mereka, susah untuk meminjam modal padahal mereka sangat membutuhkan dana tersebut untuk memenuhi kehidupan sehari hari.
Diakibatkan ekonomi yang pas-pas an, banyak dari anak anak terpaksa putus sekolah karena tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan tersebut. Memang sangat disayangkan karena seharusnya dengan mereka bersekolah dapat merubah kehidupan mereka nantinya. Selain tidak ada biaya untuk sekolah, di desa tersebut bahkan masih ada rumah yang tidak memiliki sarana sanitasi sendiri sehingga mereka harus menumpang di rumah tetangga bahkan harus kesungai. Padahal yang kita tahu bahwa sarana sanitasi tersebut sangat lah perlu dalam kehidupan sehari-hari. Sarana sanitasi yang diperlukan tidak hanyak kamar mandi, namun daerah pembuangan seharusnya menjadi perhatian yang penting karena saluran pembuangan yang tidak sesuai hanya akan menambah masalah yang tidak hanya merugikan pribadi tapi orang lain dapat terkena imbasnya. Air Pdam yang merupakan sumber air bersih di Desa tersebut pun belum mampu memenuhi kebutuhan air mereka, dimana apabila air macet atau mati bisa berlangsung berhari hari dan apabila hujan air akan keruh sehingga untuk minum sangat tidak dianjurkan karena dapat membahayakan kesehatan.
Masyarakat Meunasah Mon kebanyakan memiliki akses kesehatan BPJS, meskipun memiliki akses masih ada masyarakat yang lebih memilih untuk berobat secara tradisional ataupun hanya dengan membeli obat biasa di warung warung terdekat dengan dalih lebih dekat dan murah. Meskipun tidak semua, namun ada juga masyarakat yang memilih berobat ke puskesmas dengan bantuan BPJS namun tidak mampu untuk berobat ke dokter dikarenakan tidak adanya biaya. Padahal kebanyakan dari masyarakat nya sendiri sudah berusia setengah abad dimana usia ini sangat rentan terhadap penyakit apabila tidak sering di periksa.
Meskipun hidup pas-pas an namun sikap kekeluargaan yang dimiliki masyarakat cukup besar, hal itu dapat dibuktikan pada saat diadakan nya rapat/musyawarah atau kegiatan rutin yang dilakukan Gampong, masyarakat menunjukkan antusias yang cukup besar dan bersedia ikut dalam kegiatan tersebut. Rapat/musyawarah tersebut juga digunakan masyarakat sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi dan pendapat mereka.

Berikut beberapa hasil survey lapangan anggota

1. Marlina
Siti hawa (69 tahun ), pendidikan terakhir MAN, status Janda dan memiiki anak 2 tingkat SMP. Sejak tahun 1996, beliau ditinggal oleh suami nya yang merantau namun hingga sekarang tidak ada kabar lagi. Di rumah pribadi berukuran 36 inilah Ibu Siti tinggal bersama kedua anaknya. Demi menghidupi keluarga nya, Siti menjual kacang rebus dan sayur sayuran meskipun hasil yang didapat tidak mampu menutupi kekurangan mereka. Bantuan yang pernah diterima nya ialah beras raskin yang diberikan oleh pihak Pertamina serta untuk mendapatkannya tidak perlu berdesak-desakan. Meskipun di gampong itu memunyai usaha Koperasi, namun Siti tidak pernah meminjam di sana karena takut tidak mampu membayar kembali. Untungnya, beliau tetap menerima zakat pertahun (tiap Idul Fitri) yang dapat membantu mereka saat itu. Siti mengharapkan pemerintah dapat memberikan bantuan dana bagi mereka agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Oleh karena itu, setiap diadakan rapat/musyawarah gampong, Siti sering hadir demi menyampaikan keinginan nya. Meskipun serba kekurangan, Siti masih dapat bersyukur karena memiliki akses air bersih serta memiliki sarana  sanitasi pribadi serta BPJS yang dapat digunakan saat penyakit nya kambuh.

2. Rafi Aulia
Amiruddin (52 tahun), pendidikan terakhir MIN, status menikah dan mempunyai anak 2. Amir sehari hari bekerja sebagai nelayan yang menurut beliau “cukup” untuk sehari hari. Namun, apabila cuaca tidak mendukung, dia tidak akan dapat penghasilan apa-apa dikarenakan tidak mempunyai sumber pendapatan lain. Untuk menambah modal, biasanya Amir meminjam uang ke koperasi sebesar 1 juta dan bayar bulanan nya 70 rb rupiah serta proses nya harus berkelompok dan ketua kelompok sebagai penanggung jawab. Setiap bulannya, Amir mendapat raskin yang diberikan pemerintah langsung dengan ditandai adanya kupon. Sedangkan zakat, beliau menerima pertahun  yaitu pada saat menjelang lebaran. Untuk menambah penghasilan dilakukan lah praktek Mawah, dimana dia merawat lembu orang, setelah anak lembu lahir dibagi dua dari harga anak lembu tersebut. Menurut Amir, program pemerintah belum cukup karena bantuan pemerintah sangat sedikit yang diterima oleh mereka. Dia mengharapkan pemerintah dapat memberikan kapal dan kapal tersebut dibayar dengan cara dicicil ataupun memberikan lahan baginya untuk membudidayakan lele. Dalam bermasyarakat, Amir sering mengikuti kegiatan gotong royong karena sudah dianggap kewajiban rutin ketika menyambut bulan suci Ramadan serta Maulid Nabi Besar SAW. Akses air bersih yang didapatnya berasal dari PDAM namun terkadang airnya mati atau tidak naik. Selama setahun terakhir ini, beliau tidak menderita sakit parah yang mengharuskan rawat, namun hanya penyakit biasa dan akses yang didapat adalah BPJS. Ketika diadakan rapat/musyawarah di gampong, beliau sering mengikutinya karena dengan begitu dapat menyalurkan pendapat atau aspirasinya.

3. Apriansyah
Alimin (52 tahun), pendidikan terakhir SMP, status menikah dan mempunyai $ anak. Pria yang sehari hari bekerja sebagai Nelayan ini harus menerima kenyataan pahit dimana ada anaknya yang terpaksa putus bersekolah karena ketidak adanya biaya. Penghasilan yang diterimanya pun terkadang cukup tapi sering kekurangan. Untuk menambah penghasilan, dia pun bertani cabai meskipun sering terkendala oleh cuaca. Setiap bulannya, Ali mendapat raskin dari pemerintah dengan hanya membawa uang saja. Menurutnya, proses dalam perizinan di gampong termaksud mudah hanya saja apabila berkasnya dibawa keluar kadang terhambat. Demi menambah penghasilan, dia pun melakukan praktik mawah yang memang dilakukan oleh sebagian masyarakat gampong. Untuk mendukung ketersediaan pangan, lahan di pekarangan ditanami sayur-sayuran karena menurut beliau lebih cepat menghasilkan. Namun, sayangnya Ali tidak mengetahui apasaja program pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan di daerahnya. Sumber air bersih yang didapatnya berasal dari PDAM dan sering sekali airnya macet. Menurutnya, pembangunan di desa tidak menyentuh warga secara keseluruhan sehingga masih banyak warga yang miskinn.

4. Novi Yanti
Jamliah (65 tahun), pendidikan terakhir SMP. Status menikah dan mempunyai anak 5 orang. Di rumah berukuran 36 inilah beliau dan sekeluara tinggal. Demi menghidupi keluarga, suami beliau bekerja di pabrik bata didaerah Lambaro Angan. Penghasilan yang diterima nya pun tidak mencukupi karena tidak adanya sumber pendapatan lain. Keluarga ini pernah meminjam dana kepada PNPM dengan hanya menyertakan fotocopy KTP. Raskin yang diterima sebanyak 2 are per kk pun menjadi tambahan untuk makan mereka dan termaksud mudah karena hanya perlu mengambilnya raskin di kantor desa. Jenis usaha gampong yang ada ialah merajut yang dibatasi hanya 100 orang ibu-ibu rumah tangga. Menurutnya, program pemerintah sudah dapat meringankan mereka karena dengan adanya dan PNPM tersebut bisa untuk merenovasi rumah mereka. Meskipun di gampong sering diadakan kegiatan rutin, beliau jarang mengikutinya Karena terbentur akan pekerjaan. Air PDAM yang diterima mereka pun dibayar perbulan sesuai pemakaian, namun untuk mencuci, mereka lebih memilih di sungai dengan alasan hemat air. Meskipun serba kekurangan, dia masih mampu menyekolahkan kedua anaknya yan kini sudah di duduk di dayah dan kelas 3 SMP, sisanya tidak bersekolah karena tidak adanya biaya.

5. T. Silva Nanda S.
Sunaryo (36t tahun), pendidikan terakhir SMP, status menikah dan mempunyai 2 orang anak, rumah dimiliki milik pribadi berukuran 4x8 m. Demi menghidupi keluarganya, pria ini sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan yang terkadang mencukupi dan terkadang tidak. Dulu nya di Jawa pernah berdagang bakso yang terkadang lebih santai dan pendapatannya lebih banyak, hanya saja untuk kembali berdagang beliau tidak mempunyai dana serta menurutnya masyarakat tidak mampu untuk membeli bakso karena membeli nasi saja masih kurang. Untuk mengambil raskin yang diberikan tiap bulannya, mereka hanya perlu membawa uang saja untuk mengantri dan tidak mengurus macam-macam surat. Menurutnya program yang ada untuk menanggulangi kemiskinan belum maksimal dikarenakan masih banyak nya orang miskin, namun sayangnya dia tidak mengetahui pasti apa saja program pemerintah tersebut. Gotong royong serta pengajian sudah dianggap kegiatan rutin yang wajib diikuti demi mempererat tali silahturahmi. Meskipun memiliki akses air PDAM namun sekarang sudah tidak berfungsi lagi. Untuk memenuhi air sehari-hari digunakanlah air sumur sendiri.

6. Intan Silvia
Rusmini(75 tahun), pendidikan terakhir SMP, janda dengan 3 anak. Pekerjaan sehari-hari yang dijalani nya ialah berjualan kue dengan menitipkan kewarung tetangga. Untuk memenuhi kekurangan, wanita setengah baya ini pun bertani di bantu salah seorang anaknya. Kenaikan harga pokok yang melambung menjadi kendala beliau dalam berjualan, karena modal yang dikeluarkan bisa lebih besar daripada pendapatan. Saat di gampong itu masih ada koperasi, dia pernah meminjam dana di sana dengan syarat yang cukup mudah. Nenek ini juga menerima raskin (per bulan) serta zakat (pertahun) yang menurutnya sangat bermanfaat. Meskipun di gampong itu masih terdapat mawah, namun dia memilih tidak melakukannya. Menurut beliau program yang dijalankan pemerintah belum maksimal karena tidak meratanya atas bantuan tersebut dan dia mengharapkan pemerintah kedepannya lebih teliti dan maksimal. Meskipun kekurangan, tapi nenek Rusmini masih bersyukur karena adanya air PDAM meskipun sering macet dan adanya akses kesehatan seperti BPJS yang sangat berguna apabila beliau ingin berobat ke puskemas. Ketiga anaknya sudah menikah namun hanya seorang yang masih bersamanya.

7. Kori Silvia
Ainal Mardhiah (70 tahun), janda dengan 2 orang anak. Nenek Ainal tidak pernah mengecap bangku sekolah sehingga demi menghidupi keluarganya dia memilih untuk membantu tetangga menjual kacang rebus. Sebelum berjualan kacang, dia pernah bekerja sebagai petani, namun seiring bertambah usia dia memilih cukup berjualan saja meskipun pendapatan yang diterima tidak menentu. Meskipun syarat apabila meminjam dana mudah, namun dia memilih jalan aman dengan tidak meminjam karena tidak mampu membayarnya. Bantuan yang diterima ialah raskin serta zakat pada waktu tertentu. Akses air bersih yang ada ialah PDAM meskipun ketika hujan airnya keruh sehingga tidak dapat digunakan untuk minum.

8. Fidzar Aiga Aulianda
Rosmiati (78 tahun), pendidikan terakhir SMP, janda dengan 4 anak. Dengan hanya menjual kue ke warung-warung dia menghidupi keluarganya. Meskipun ada pemberian pendapatan dari anak yang sudah menikah namun dirasa belum memenuhi kebutuhan mereka. Nek Rosmiati pernah meminjam uang ke bank untuk dijadikan modal usaha dengan syarat yang terbilang mudah yaitu, survey usaha dan melihat ktp. Raskin yang diterima nya pun tidak menentu karena dibagikan langsung oleh kepala dusun serta tidak seluruh warga miskin yang menerimanya. Meskipun ada usaha gampong, mereka kurang dipercaya karena adanya predikat miskin yang melekat pada mereka. Pemberian modal usaha menurut nya sangat bagus karna dapat mengembangkan usaha yang sudah ada. Diakibatkan tingkat kesehatan yang sudah menurun, beliau jarang mengikuti kegiatan gampong seperti, pengajian ataupun rapat warga.

9. Nia Murniati
Zuhriati (32 tahun), pendidikan terakhir SD. Status menikah dan punya anak 1. Untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja sebagai petani yang dirasa terkadang kurang. Ketika hujan sangat menghambat dalam mencari rezeki Karena lahan perkebunan berada di atas gunung. Meskipun masuk dalam golongan warga miskin, namun keluarga mereka tidak pernah mendapat bantuan pemerintah seperti raskin dan proses untuk mengurus surat-surat cenderung susah. Menurut nya kegiatan rutin gampong seperti gotong royong, pengajian, dan wirid menjadi kewajiban karena dengan begitu antar warga akan ada ikatan kuat. Air PDAM yang terkadang mati, serta keruh pada saat hujan sangat mengganggu kegiatan sehari hari seperti memasak,mandi, dan mencuci.

10. Miftahul Jannah
Burhani (64 tahun), pendidikan terakhir Min, status menikah dan 9 orang anak. Dengan hanya bermodalkan melaut, dia menghidupi keluarga. Pendapatan yang diterima nya sangat bergantung pada cuaca dan keadaan laut. Ketidakmampu untuk membayar ulang membuat pria ini enggan meminjam dana kepada lembaga keuangan. Raskin yang diterima nya pun tidak sesuai karna menurutnya raskin diberikan kepada keuchik sedangkan pak keuchiknya tidak menyalurkan raskin tersebut kepada mereka. Usaha gampong yang dimilki pun tidak dapat membantu mereka karena pihak pengelola tidak percaya. Lahan yang terlalu sempit membuat mereka tidak dapat memanfaatkan untuk tambahan kebutuhan pangan. Program yang ada dirasa tidak mampu mengatasi kemiskinan karena Keuchiknya tidak menyalurkan bantuan seperti raskin kepada warga miskin, kalau adapun hanya sesekali mendapatkannya. Kegiatan rutin yang ada di gampong dijadikan wadah sebagai menambah ilmu dan memperbaiki diri menjadi lebih baik sehingga dapat mengajarkan nya kepada anak-anak. Akses air yang digunakan adalah sumur, untuk memperolehnya menggunakan/memasang keran. Terlalu sering bekerja membuat pria ini cenderung sakit-sakitan namun hanya berobat secara tradisional karena boleh membayar seikhlasnya.

11. Aziz Gust Munandar
Nur Habibah/Zainal (27/31 tahun), pendidikan terakhir (SMA/SMP), status menikah dan mempunyai 3 orang anak. Demi menghidupi keluarga sehari hari serta membayar rumah sewa, Zainal bekerja sebagai buruh bangunan yang penghasilannya dirasa tidak cukup. Dikarenakan tidak adanya keahlian lain membuatnya harus bekerja sebagai buruh bangunan saja. Kendala yang dialami ialah gaji yang terkadang telat diberikan. Menurut mereka, mudah saja melakukan pinjaman tetapi beratnya karena harus ada jaminan yang merupakan syarat utama peminjaman. Dalam hal memperoleh beras raskin pun dirasa mudah karena hanya membawa kk dan sejumlah uang. Dalam pengajuan surat, tergantung surat apa yang diajukan. Jika surat tersebut memberi keuntungan untuk pribadi misalnya proposal agak dipersulit dan banyak persyaratan. Meskipun secara ekonomi mereka berhak menerima zakat, tapi faktanya mereka belum pernah menerima zakat tersebut. Luas tanah sama dengan luas rumah yang hanya sebesar 3x5 m itu pun sangat memprihatinkan. Ketidak tahuan tentang program pemerintah membuatnya tidak dapat memberikan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Sangat disayangkan,keluarga kecil ini tidak mempunyai sarana sanitasi sendiri hingga harus menumpang ke rumah tetangga mereka. Tidak adanya akses air bersih membuat mereka harus membeli air untuk minum dan masak sedangkan mandi dan mencuci dilakukan di sungai. BJPS yang diurus pun belum keluar, namun ketika berobat mereka memilih ke Puskesmas.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil temuan kami di lapangan, Gampong Meunasah Mon, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar tersebut sangat layak untuk dapat perhatian yang lebih dari pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi Aceh. Mengingat angka kemiskinan yang mencapai 70% tersebut tidak dapat dianggap remeh oleh pemerintah. Pemerintah harus dapat meminimalisir persentase yang tinggi itu demi mensejahterakan masyarakatnya. Menurut beberapa warga desa, mereka mengharapkan pemerintah dapat bersikap adil dalam hal pemberian bantuan serta dana untuk mereka. Karena pada praktik lapangannya  masih banyak ditemukan tidak meratanya pembagian tersebut. Selain itu mereka mengharapkan adanya perbaikan atas sarana sanitasi di desa tersebut sehingga semua rumah punya sarana sanitasi. Di desa tersebut juga banyak anak yang putus sekolah, sehingga hal ini dapat dijadikan perhatian khusus pemerintah demi masa depan anak-anak.

Foto – FotoPenelitian









Sabtu, 29 Oktober 2016

Muhammad Yunus dan Grameen Bank


Bapak bank rakyat miskin, siapakah dia? Yaa dia adalah Muhammad Yunus.  Kenapa beliau mendapat gelar seperti itu? Karena dia merupakan pendiri Bank Grameen, dimana Bank Grameen itu sendiri memiliki makna yaitu bank untuk kaum miskin.

Baiklah teman pembaca, sebelum saya menjelaskan mengenai sejarah berdirinya Bank Grameen,terlebih dahulu  saya ingin memberitahukan sedikit mengenai sosok dari pendiri Bank Grameen tersebut yaitu bapak Muhammad Yunus. Jadi teman pembaca , Muhammad Yunus berasal dari salah satu keluarga menengah ke atas di desanya. Ayahnya merupakan penambang emas sukses dan mendorong anaknya untuk bersekolah setinggi-tingginya. Ibunya menjadi sosok yang menginspirasinya, karena selalu memberikan pinjaman kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Kehidupan masa kecil Yunus banyak dihabiskan di desa kelahirannya, sebelum akhirnya ia pindah ke kota Chittagong karena bisnis perhiasan ayahnya yang maju. Muhammad Yunus adalah sosok yang cerdas dan cekatan. Pendidikannya cukup menjanjikan. Ia menjadi anak yang pintar di sekolahnya. Kecerdasannya selama sekolah membuatnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ekonomi.
Pada usia 21 tahun, ia telah berhasil menyelesaikan studi di Universitas Chittagong dan ditawari posisi sebagai dosen di almamaternya tersebut. Ia menerima tawaran tersebut dan mengajar di sana dari tahun 1961 sampai 1965. Pada tahun 1965, Muhammad Yunus mendapatkan beasiswa Ph.D. bidang ekonomi di Vanderbilt University Graduate Program in Economic Development (GEPD). Namun, sebelum masuk ke universitas tersebut, ia diwajibkan mengikuti kuliah musim panas di University of Colorado.
Dalam program kuliah tersebut, ia tidak merasakan kesulitan sedikitpun. Program master yang dipelajarinya menjadi enteng dan dangkal jika dibandingkan dengan tugas-tugas canggih yang pernah ia kerjakan di Bangladesh. Setelah menamatkan pendidikan Ph.D. di Amerika Serikat, Yunus menjadi seorang pengajar di Chittagong University. Muhammad Yunus menjadi sosok ekonom yang menonjol di Bangladesh.
Pada saat itu negeri itu tengah dilanda kelaparan. Di situlah dia mengajarkan teori ekonomi yang muluk-muluk di ruang kelas dengan antusiasme seorang doktor yang baru lulus dari Amerika Serikat. Tetapi, begitu selesai mengajar, dia keluar kelas dan langsung saja melihat kerangka hidup berkeliaran di sekeliling dia, yaitu orang-orang sekarat, tinggal menunggu ajal. Dia  merasakan bahwa apapun yang dia ajarkan hanya merupakan khayalan yang tak punya arti bagi orang-orang itu. Karena itu,dia  mencoba mengetahui bagaimana mereka yang tinggal di kampung sebelah kampus universitas tempat dia mengajar itu menjalankan kehidupan mereka. Dia  ingin tahu apakah ada sesuatu yang dapat dia lakukan sebagai sesama manusia untuk menunda atau menghentikan kematian walaupun hanya menyangkut satu orang saja.
Pada suatu hari,  dia  bertemu dengan seorang wanita yang membuat dingklik dari bambu setelah panjang lebar bicara dengannya,dia menemukan bahwa sehari ibu itu hanya menghasilkan dua sen dolar amerika. Dia  tak bisa percaya bahwa ada seseorang yang dapat bekerja keras, dan membuat dingklik bambu dengan begitu indah, dan hanya mendapatkan penghasilan begitu kecil. Ibu itu menjelaskan bahwa karena tidak punya uang untuk membeli bambu, dia harus meminjamnya dari seorang pedagang dan orang itu memaksakan sebuah aturan bahwa ibu tadi harus menjual dingklik buatannya hanya kepadanya, dengan harga yang ditentukan oleh pedagang tadi. Karena itulah ibu tadi hanya mendapat penghasilan dua sen per hari. Dengan demikian,ibu itu menjadi pekerja yang terikat oleh pedagang tersebut. Sebenarnya berapa harga bambu itu? Dia bilang, “Oh, sekitar 20 sen; atau 25 sen untuk yang bagus sekali.” Dia berpikir, “Ada orang yang menderita hanya karena tidak punya uang 25 sen, dan tak ada sesuatu yang bisa dia lakukan?” Nurani dia bergemuruh dengan suatu pergulatan apakah dia harus memberinya 25 sen, tapi kemudian dia punya gagasan lain,dia akan membuat daftar orang-orang yang memerlukan uang seperti itu. Dia  mengajak mahasiswanya keliling kampung selama beberapa hari. Akhirnya mereka memiliki daftar 42 orang seperti ibu tadi. Ketika dia menjumlahkan total uang yang mereka perlukan dia sangat terkejut, jumlah total uang itu hanya 27 dolar!! Pada saat itu dia merasa malu terhadap dirinya sendiri karena menjadi bagian dari suatu masyarakat yang tidak bisa menyediakan uang sejumlah 27 dolar bagi 42 orang yang memiliki keahlian dan semangatuntukkerjakeras.Untuk menghapus rasa malu itu,dia mengambil uang 27 dolar dari kantongnya dan memberikan kepada mahasiswanya tadi. dia berkata ambillah uang ini dan berikan kepada 42 orang yang kita temui itu. Katakan kepada mereka bahwa uang ini adalah pinjaman dan mereka dapat mengembalikannya kapan saja mereka bisa. Muhammad Yunus melakukan hal itu agar mereka dapat menjual produk mereka kepada siapapun yang akan membayar dengan bayaran yang baik.”
Setelah menerima uang itu mereka jadi bersemangat. Melihat itu,dia berpikir, “Apa yang harus dia lakukan sekarang?” Dia berpikir mengenai cabang bank yang ada di kampusnya dan dia menemui manajernya serta menyarankan agar dia meminjamkan uang kepada orang-orang yang telah mereka temui tadi. Manajernya pun  kaget seperti jatuh dari langit! Katanya,”Anda gila apa? Itu tak mungkin. Bagaimana mungkin kami meminjamkan yang itu kepada orang-orang miskin? Mereka tidak layak untuk menerima kredit.” bapak Yunus  membujuknya dan berkata “Sekurang-kurangnya cobalah, siapa tahu…toh uang yang bakal terlibat hanya sedikit.”
Katanya, “tidak akan. Aturan kami tidak memungkinkan hal itu. Mereka tidak dapat memberi jaminan, dan jumlah sekecil itu juga tidak layak diberikan sebagai pinjaman.”
Manajer tadi  menyarankan kepada bapak Yunus untuk menemui pejabat yang lebih tinggii, di hierarki perbankan Bangladesh. Bapak Yunus pun mengikuti sarannya dan menemui orang yang bertugas pada perkreditan. Semua orang mengatakan hal yang sama kepadanya. Setelah beberapa hari berkeliling mencari orang yang dapat diajak bicara, akhirnya dia menawarkan diri sebagai penjamin. “Saya akan menjadi penjamin semua pinjaman itu. Akan saya tandatangani apa pun yang harus saya tandatangani. Setelah mendapat uangnya, saya akan menyerahkannya kepada orang-orang yang saya kehendaki.”kata Pak Yunus.
Jadi, begitulah mulainya. Mereka terus-menerus mengingatkannya bahwa orang-orang miskin yang menerima pinjaman itu tidak akan mengembalikannya. Dia berkata, “Akan saya coba.” Dan herannya mereka mengembalikan setiap sen kepadanya. Dia  jadi amat bersemangat dan kembali lagi kepada manajer bank tadi, “Lihat, mereka membayar pinjaman mereka; jadi tak bakal jadi masalah.”kataPakYunus.
Tetapi manajer tersebut bilang, “Ah, jangan mudah tertipu. Mereka sedang membodohi Anda. Coba saja, mereka pasti segera meminjam uang yang lebih besar, dan tak akan pernah mengembalikankepadaanda.”
Nah mendengar perkataan manajer tersebut, pak Yunus meminjamkan uang yang lebih besar, dan pada saatnya mereka mengembalikan pinjaman mereka. Dia  ceritakan hal ini kepada manajer tadi, tapi katanya, “Yah, barangkali Anda bisa melakukan hal ini di satu desa, tapi kalau anda melakukannya untuk 2desa, ini tidak mungkin jalan.”
Dia segera melakukannya untuk 2 desa-dan ternyata jalan. Begitulah, akhirnya seakan-akant terjadi pergulatan antara pak Yunus dengan manajer bank tadi, juga sejawatnya di posisi struktural yang lebih tinggi. Mereka mengatakan bahwa itu tak akan jalan untuk jumlah orang yang lebih besar, misalnya 5 desa. Karena itu, dia melakukannya untuk 5 desa, dan ternyata setiap orang mengembalikannya. Orang-orang bank tadi tidak mau menyerah. Mereka bilang, “10desa.50desa.100desa.”
Jadilah semacam perlombaan di antara mereka dan pak Yunus. Setiap kali dia datang kepada mereka, membawa hasil yang tentu tidak mereka tolak, karena uang itu adalah uang mereka, tetapi mereka tetap tidak menerima idenya, karena mereka dididik dengan pemahaman bahwa orang miskin tidak layak mendapat uang pinjaman. Menurut mereka, orang miskin tidak bisa diandalkan. Untungnya, dia tidak dididik seperti itu sehingga dia masih bisa percaya apa saja yang bisa dia lihat dan temukan, ketika hal-hal itu menyatakan dirinya sendiri. Tetapi, pikiran dan mata orang-orang bank tadi dibutakan oleh pengetahuan yang mereka miliki.
Akhirnya muncul pikiran, kenapa dia harus berusaha membuat mereka yakin? Dia sendiri amat percaya bahwa orang miskin dapat mengambil pinjaman dan membayarnya kembali. Kenapa tidak mendirikan bank sendiri? Gagasan ini membuat dia bersemangat, maka dia menulis proposal dan menghadap pemerintah untuk mendapatkan izin mendirikan bank. Dia  memerlukan waktu 2 tahun untuk meyakinkan mereka.
Akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1983 Pak yunus mendirikan sebuah bank yaitu Grameen Bank,bank resmi dan independen. Seiring berjalannya waktu , Bank Grameen terus berkembang dan selalu memberikan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan terutama dari kaum miskin.

Sekian cerita saya mengenai bapak Muhammad Yunus dalam mendirikan Bank Grameen, semoga teman pembaca dapat mengambil manfaat dari cerita ini, AMIN.

Sekian dan terima kasiiiiih :)




Kamis, 05 Mei 2016

Case Study at Solong Coffee II

Solong Coffee II 
           
Solong Coffee II
    Belum dikatakan pernah ke Banda Aceh jika anda belum pernah menyicipi nikmatnya rasa minuman yang satu ini. Yaa kopi Solong Coffee. Kopi yang ditawarkan di Solong Coffee memiliki aroma yang sangat menggoda dan menggugah selera para penikmat kopi. “Rugi Ke Warkop Solong Coffee Kalau Anda Tidak Pesan Kopi” kata Pak Fahmi Yunus(30/4/16).

·      Sejarah Solong Coffee

            Pada tahun 1974, Haji Muhammad Saman atau dikenal dengan Abu Tolong memulai usaha warung kopi yang dikenal dengan “Jasa Ayah” di Ulee Kareng. Kenapa disebut Abu Tolong bukan Abu Solong? Karena beliau orangnya suka menolong.
            Pada tahun 1999, Yusaini atau dikenal dengan sebutan Bang Yus mulai bekerja sebagai karyawan di warkop “Jasa Ayah” sampai tahun 2009.
            Dulunya warkop tersebut bukan solong namanya melainkan warkop “Jasa Ayah”.  Namun pada tahun 2002, nama Solong Coffee mulai populer dan terus maju.
            Kenapa dinamakan Solong Coffee?” Tidak ada sejarah tertentu mengenai penamaan warkop Solong Coffee tersebut, tetapi kata-kata solong tersebut berasal dari sebutan orang-orang “mau ke solong,,,,mau ke solong,,” dari itulah warkop tersebut dinamakan Solong Coffee”kata Bang Yus(30/4/16).
            Pada tahun 2009, Solong Coffee II(cabang pertama) mulai dibuka. Solong Coffee II di buka di Lampeuneurut, tepatnya di Jln. Soekarno Hatta(samping The Pade Hotel).pada tahun inilah Bang Yus diangkat menjadi seorang manajer. Dulunya Warkop Solong Coffee II ini hanya terdiri dari satu pintu setengah.  Namun berkat kerja keras Bang Yus, sekarang Warkop Solong Coffee II ini menjadi dua pintu setengah.
Apa strategi awal yang dilakukan Bang Yus dalam membuka Warkop Solong Coffee II ini? Dulu tidak ada orang yang ngopi disini, kemudian Bang Yus mempunyai ide untuk membuat warkopnya itu kelihatan rame dengan cara menyuruh karyawannya duduk diluar sehingga ketika orang lewat didepan warkopnya itu, orang-orang berpikiran bahwa kopi yang dijual diwarkopnya itu enak sehingga orang-orang tersebut mempunyai keinginan untuk mampir dan menyicipi menu yang disediakan di warkopnya itu. Selain itu, Bang Yus juga memberikan bonus kepada pengunjung yaitu beli satu gratis satu(buy one get one),untuk apa? Supaya pengunjung tersebut berlama-lama di warkopnya itu. "Pangkai 10 Peublo 9, lam ruweung metume laba"kata Pak Rizal. apa maksudnya? maksudnya adalah rugi di awal dapat untung di kemudian hari(atau umpamanya rugi di garam laba di cabe).  (hahaha luar biasa memang idenya Bang Yus J).

·      Business Organization Structure
Owner Solong Coffee yaitu Haji Nawawi
Manajer Solong Coffee II yaitu Yusaini
Barista/ Joki yaitu maskur dan Aziz Saputra
Waiter yaitu Muhammad Dedi, Mahendra, Azis, Rahmat, dan Aulia

·      Tentang Manajer Solong Coffee II
-          Nama Yusaini
-          Lahir di lambaet, Aceh Besar /1 juni 1982
-          Anak kedua(lahir kembar) dari pasangan Zulkifli dan Jauhari
-          Sempat menamatkan pendidikan di bangku SMP Negeri 1 Kuta Baro, Aceh Besar
-          Suami dari Yusniar
-          Sangat bangga menjadi ayah dari Muhammad Rafi(6 tahun) dan Muhammad Sulthan Hawari(7 bulan)

·      Faktor  Keberhasilan Bisnis Warkop Solong Coffee II
-          Fokus pada produk yang dijual yaitu kopi.
Walaupun di Solong Coffee II menjual berbagai jenis makanan dan minuman yang enak-enak, namun tetaplah kopi yang menjadi prioritas utama bagi pihak solong. Bang Yus beserta rekan kerjanya yang lain berusaha untuk selalu menjaga cita rasa kopinya agar selalu nikmat sehingga pengunjungnya betah dan ingin selalu ngopi di warkopnya itu.
Kenapa kopi bisa membuat mata orang melek? Karena pada saat bubuk di proses,ada penambahan gula dan Blue Band, dimana kedua bahan tersebut dapat membuat mata orang melek.
-          Konsep warkop yang jelas dan menarik
Warkop dirancang sebagai wahana sosial untuk menghabiskan waktu dengan berbagai aktivitas. “With Coffee You Can Do More” apa maksudnya? Maksudnya adalah warkop tidak hanya digunakan sebagai tempat nongkrong melainkan disana kita bisa melakukan berbagai aktivitas lainnya seperti melepas penat, bersantai, membuat tugas sekolah, kuliah atau kantor, bertemu kawan, rapat bisnis dan lain-lain. Oleh karena itu, ruangan dan perabotan di desain sesuai dengan tujuan di atas.
-          Standar spesifik yang terjaga
Berusaha untuk selalu menjaga cita rasa kopi agar selalu sesuai dengan yang diinginkan oleh pelanggan.

·      cara menjaga standar QC(Quality Control) sehingga warkop bisa bertahan lama
-          Memastikan rasa kopi stabil dengan mencoba sendiri setiap hari.
-          Memastikan pelanggan mendapatkan rasa kopi sesuai yang diinginkan dan langsung mengganti kopi dengan kopi baru jika rasa tidak sesuai dengan selera pelanggan.
-          Memastikan bubuk kopi di gonseng dengan cara yang tepat untuk kualitas bubuk yang bagus.

Mungkinkah berbisnis tanpa modal sendiri?
-          Mungkin saja, contohnya pengalaman pribadi Bang Yus. Dimana dulu ketika Bang Yus belum sukses seperti sekarang ini,untuk pergi bekerja Bang Yus harus mencuci bajunya terlebih dahulu. Artinya mungkin saja beliau hanya mempunyai dua baju saja untuk pergi bekerja.
-          Kenapa bisa?
Karena Bang Yus mendapatkan kepercayaan dari owner
-          Kenapa di percaya?
>pengalaman kerja di warkop hampir 10 tahun
>lulus ujian kejujuran
>memiliki inovasi dalam bekerja
>memiliki keunikan dalam melayani pelanggan
     Service first(pelayanan bagi pelanggan nomor 1)
     Ramah dan menghibur
     Tidak membeda-bedakan pelanggan
     Cepat dan tepat dalam menghitung
     Berterima kasih atas kunjungan pelanggan



Email:yusaini.soldu@gmail.com
Facebook: Solong Coffee II
Twitter: @solongcoffee2
HP: 081362969969