Sabtu, 29 Oktober 2016

Muhammad Yunus dan Grameen Bank


Bapak bank rakyat miskin, siapakah dia? Yaa dia adalah Muhammad Yunus.  Kenapa beliau mendapat gelar seperti itu? Karena dia merupakan pendiri Bank Grameen, dimana Bank Grameen itu sendiri memiliki makna yaitu bank untuk kaum miskin.

Baiklah teman pembaca, sebelum saya menjelaskan mengenai sejarah berdirinya Bank Grameen,terlebih dahulu  saya ingin memberitahukan sedikit mengenai sosok dari pendiri Bank Grameen tersebut yaitu bapak Muhammad Yunus. Jadi teman pembaca , Muhammad Yunus berasal dari salah satu keluarga menengah ke atas di desanya. Ayahnya merupakan penambang emas sukses dan mendorong anaknya untuk bersekolah setinggi-tingginya. Ibunya menjadi sosok yang menginspirasinya, karena selalu memberikan pinjaman kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Kehidupan masa kecil Yunus banyak dihabiskan di desa kelahirannya, sebelum akhirnya ia pindah ke kota Chittagong karena bisnis perhiasan ayahnya yang maju. Muhammad Yunus adalah sosok yang cerdas dan cekatan. Pendidikannya cukup menjanjikan. Ia menjadi anak yang pintar di sekolahnya. Kecerdasannya selama sekolah membuatnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ekonomi.
Pada usia 21 tahun, ia telah berhasil menyelesaikan studi di Universitas Chittagong dan ditawari posisi sebagai dosen di almamaternya tersebut. Ia menerima tawaran tersebut dan mengajar di sana dari tahun 1961 sampai 1965. Pada tahun 1965, Muhammad Yunus mendapatkan beasiswa Ph.D. bidang ekonomi di Vanderbilt University Graduate Program in Economic Development (GEPD). Namun, sebelum masuk ke universitas tersebut, ia diwajibkan mengikuti kuliah musim panas di University of Colorado.
Dalam program kuliah tersebut, ia tidak merasakan kesulitan sedikitpun. Program master yang dipelajarinya menjadi enteng dan dangkal jika dibandingkan dengan tugas-tugas canggih yang pernah ia kerjakan di Bangladesh. Setelah menamatkan pendidikan Ph.D. di Amerika Serikat, Yunus menjadi seorang pengajar di Chittagong University. Muhammad Yunus menjadi sosok ekonom yang menonjol di Bangladesh.
Pada saat itu negeri itu tengah dilanda kelaparan. Di situlah dia mengajarkan teori ekonomi yang muluk-muluk di ruang kelas dengan antusiasme seorang doktor yang baru lulus dari Amerika Serikat. Tetapi, begitu selesai mengajar, dia keluar kelas dan langsung saja melihat kerangka hidup berkeliaran di sekeliling dia, yaitu orang-orang sekarat, tinggal menunggu ajal. Dia  merasakan bahwa apapun yang dia ajarkan hanya merupakan khayalan yang tak punya arti bagi orang-orang itu. Karena itu,dia  mencoba mengetahui bagaimana mereka yang tinggal di kampung sebelah kampus universitas tempat dia mengajar itu menjalankan kehidupan mereka. Dia  ingin tahu apakah ada sesuatu yang dapat dia lakukan sebagai sesama manusia untuk menunda atau menghentikan kematian walaupun hanya menyangkut satu orang saja.
Pada suatu hari,  dia  bertemu dengan seorang wanita yang membuat dingklik dari bambu setelah panjang lebar bicara dengannya,dia menemukan bahwa sehari ibu itu hanya menghasilkan dua sen dolar amerika. Dia  tak bisa percaya bahwa ada seseorang yang dapat bekerja keras, dan membuat dingklik bambu dengan begitu indah, dan hanya mendapatkan penghasilan begitu kecil. Ibu itu menjelaskan bahwa karena tidak punya uang untuk membeli bambu, dia harus meminjamnya dari seorang pedagang dan orang itu memaksakan sebuah aturan bahwa ibu tadi harus menjual dingklik buatannya hanya kepadanya, dengan harga yang ditentukan oleh pedagang tadi. Karena itulah ibu tadi hanya mendapat penghasilan dua sen per hari. Dengan demikian,ibu itu menjadi pekerja yang terikat oleh pedagang tersebut. Sebenarnya berapa harga bambu itu? Dia bilang, “Oh, sekitar 20 sen; atau 25 sen untuk yang bagus sekali.” Dia berpikir, “Ada orang yang menderita hanya karena tidak punya uang 25 sen, dan tak ada sesuatu yang bisa dia lakukan?” Nurani dia bergemuruh dengan suatu pergulatan apakah dia harus memberinya 25 sen, tapi kemudian dia punya gagasan lain,dia akan membuat daftar orang-orang yang memerlukan uang seperti itu. Dia  mengajak mahasiswanya keliling kampung selama beberapa hari. Akhirnya mereka memiliki daftar 42 orang seperti ibu tadi. Ketika dia menjumlahkan total uang yang mereka perlukan dia sangat terkejut, jumlah total uang itu hanya 27 dolar!! Pada saat itu dia merasa malu terhadap dirinya sendiri karena menjadi bagian dari suatu masyarakat yang tidak bisa menyediakan uang sejumlah 27 dolar bagi 42 orang yang memiliki keahlian dan semangatuntukkerjakeras.Untuk menghapus rasa malu itu,dia mengambil uang 27 dolar dari kantongnya dan memberikan kepada mahasiswanya tadi. dia berkata ambillah uang ini dan berikan kepada 42 orang yang kita temui itu. Katakan kepada mereka bahwa uang ini adalah pinjaman dan mereka dapat mengembalikannya kapan saja mereka bisa. Muhammad Yunus melakukan hal itu agar mereka dapat menjual produk mereka kepada siapapun yang akan membayar dengan bayaran yang baik.”
Setelah menerima uang itu mereka jadi bersemangat. Melihat itu,dia berpikir, “Apa yang harus dia lakukan sekarang?” Dia berpikir mengenai cabang bank yang ada di kampusnya dan dia menemui manajernya serta menyarankan agar dia meminjamkan uang kepada orang-orang yang telah mereka temui tadi. Manajernya pun  kaget seperti jatuh dari langit! Katanya,”Anda gila apa? Itu tak mungkin. Bagaimana mungkin kami meminjamkan yang itu kepada orang-orang miskin? Mereka tidak layak untuk menerima kredit.” bapak Yunus  membujuknya dan berkata “Sekurang-kurangnya cobalah, siapa tahu…toh uang yang bakal terlibat hanya sedikit.”
Katanya, “tidak akan. Aturan kami tidak memungkinkan hal itu. Mereka tidak dapat memberi jaminan, dan jumlah sekecil itu juga tidak layak diberikan sebagai pinjaman.”
Manajer tadi  menyarankan kepada bapak Yunus untuk menemui pejabat yang lebih tinggii, di hierarki perbankan Bangladesh. Bapak Yunus pun mengikuti sarannya dan menemui orang yang bertugas pada perkreditan. Semua orang mengatakan hal yang sama kepadanya. Setelah beberapa hari berkeliling mencari orang yang dapat diajak bicara, akhirnya dia menawarkan diri sebagai penjamin. “Saya akan menjadi penjamin semua pinjaman itu. Akan saya tandatangani apa pun yang harus saya tandatangani. Setelah mendapat uangnya, saya akan menyerahkannya kepada orang-orang yang saya kehendaki.”kata Pak Yunus.
Jadi, begitulah mulainya. Mereka terus-menerus mengingatkannya bahwa orang-orang miskin yang menerima pinjaman itu tidak akan mengembalikannya. Dia berkata, “Akan saya coba.” Dan herannya mereka mengembalikan setiap sen kepadanya. Dia  jadi amat bersemangat dan kembali lagi kepada manajer bank tadi, “Lihat, mereka membayar pinjaman mereka; jadi tak bakal jadi masalah.”kataPakYunus.
Tetapi manajer tersebut bilang, “Ah, jangan mudah tertipu. Mereka sedang membodohi Anda. Coba saja, mereka pasti segera meminjam uang yang lebih besar, dan tak akan pernah mengembalikankepadaanda.”
Nah mendengar perkataan manajer tersebut, pak Yunus meminjamkan uang yang lebih besar, dan pada saatnya mereka mengembalikan pinjaman mereka. Dia  ceritakan hal ini kepada manajer tadi, tapi katanya, “Yah, barangkali Anda bisa melakukan hal ini di satu desa, tapi kalau anda melakukannya untuk 2desa, ini tidak mungkin jalan.”
Dia segera melakukannya untuk 2 desa-dan ternyata jalan. Begitulah, akhirnya seakan-akant terjadi pergulatan antara pak Yunus dengan manajer bank tadi, juga sejawatnya di posisi struktural yang lebih tinggi. Mereka mengatakan bahwa itu tak akan jalan untuk jumlah orang yang lebih besar, misalnya 5 desa. Karena itu, dia melakukannya untuk 5 desa, dan ternyata setiap orang mengembalikannya. Orang-orang bank tadi tidak mau menyerah. Mereka bilang, “10desa.50desa.100desa.”
Jadilah semacam perlombaan di antara mereka dan pak Yunus. Setiap kali dia datang kepada mereka, membawa hasil yang tentu tidak mereka tolak, karena uang itu adalah uang mereka, tetapi mereka tetap tidak menerima idenya, karena mereka dididik dengan pemahaman bahwa orang miskin tidak layak mendapat uang pinjaman. Menurut mereka, orang miskin tidak bisa diandalkan. Untungnya, dia tidak dididik seperti itu sehingga dia masih bisa percaya apa saja yang bisa dia lihat dan temukan, ketika hal-hal itu menyatakan dirinya sendiri. Tetapi, pikiran dan mata orang-orang bank tadi dibutakan oleh pengetahuan yang mereka miliki.
Akhirnya muncul pikiran, kenapa dia harus berusaha membuat mereka yakin? Dia sendiri amat percaya bahwa orang miskin dapat mengambil pinjaman dan membayarnya kembali. Kenapa tidak mendirikan bank sendiri? Gagasan ini membuat dia bersemangat, maka dia menulis proposal dan menghadap pemerintah untuk mendapatkan izin mendirikan bank. Dia  memerlukan waktu 2 tahun untuk meyakinkan mereka.
Akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1983 Pak yunus mendirikan sebuah bank yaitu Grameen Bank,bank resmi dan independen. Seiring berjalannya waktu , Bank Grameen terus berkembang dan selalu memberikan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan terutama dari kaum miskin.

Sekian cerita saya mengenai bapak Muhammad Yunus dalam mendirikan Bank Grameen, semoga teman pembaca dapat mengambil manfaat dari cerita ini, AMIN.

Sekian dan terima kasiiiiih :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar